Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Lewat Bermain Bebas

Selain bermain aktif, bermain bebas juga tak kalah penting bagi tumbuh kembang si Kecil. Untuk itu, yuk cari tahu berbagai informasi seputar bermain bebas di artikel berikut ini!

Bermain bersama si Kecil memang sangat menyenangkan ya, Mum. Apalagi ketika melihat tingkah lucunya saat melakukan berbagai aktivitas. Sungguh menggemaskan! Ya, mengajak si Kecil bermain bersama memang penting dilakukan secara rutin guna membantu mengoptimalkan tumbuh kembangnya.
Di samping itu, menyediakan waktu agar ia bisa bermain bebas ternyata tak kalah penting lho, Mum. Pasalnya, jenis permainan yang satu ini juga memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Untuk tahu lebih jauh tentang bermain bebas, yuk simak pembahasannya berikut ini!

Apa Itu Bermain Bebas?

Bermain bebas adalah kegiatan tak terstruktur yang bersifat spontan dan dilakukan si Kecil, murni atas kemauannya sendiri. Selain tidak memiliki peraturan dan tujuan tertentu, bermain bebas juga tidak melibatkan orang dewasa dalam aktivitasnya. Meskipun begitu, bukan berarti Mum boleh membiarkannya bermain begitu saja. Mum tetap harus mengawasi si Kecil agar ia tidak melakukan hal-hal yang mungkin bisa berbahaya.

Permainan Seperti Apa yang Masuk Dalam Kategori Bermain Bebas?

Seperti yang sudah disebutkan di atas, segala kegiatan yang dilakukan si Kecil atas kemauannya sendiri dan tidak memiliki peraturan tertentu, bisa dikategorikan sebagai bermain bebas. Sebut saja berpura-pura menjadi super hero, menyusun mainan blok, dan bermain boneka. Permainan seperti ini sangat baik untuk stimulasi tumbuh kembang anak karena dapat melatih kreativitas, imajinasi, hingga kemampuan dalam memecahkan masalah.

Adakah Cara yang Bisa Dilakukan untuk Membiasakan si Kecil Bermain Bebas?

Bermain bebas memang bersifat spontan dan tidak terstruktur. Namun, Mum tetap bisa mendorong si Kecil untuk terbiasa bermain bebas dengan tips di bawah ini:

  • SediakanOpen-ended Toys

Menurut Kenneth R. Ginsburg, M.D., seorang dokter anak di The Children’s Hospital of Philadelphia dan penulis laporan khusus tentang bermain di American Academy of Pediatrics, mainan sederhana justru dapat mendorong si Kecil jadi lebih kreatif. Oleh karena itu, open-ended toys atau mainan yang bisa digunakan untuk membuat berbagai kreasi seperti blok dan playdough, lebih disarankan untuk diberikan pada si Kecil dibandingkan mainan dengan peraturan yang mengikat seperti buku mewarnai dan permainan papan.

  • Hindari Terlalu Banyak Kegiatan Terjadwal

Mendaftarkan si Kecil untuk mengikuti berbagai kelas seperti kesenian, musik, dan olahraga memang baik agar anak cerdas dan aktif. Namun, terlalu banyak kegiatan yang terjadwal malah dapat mengurangi waktu dan tenaganya untuk bermain bebas. Jadi, sebaiknya Mum membatasi kegiatan terjadwal si Kecil dan memanfaatkan waktu untuk lebih banyak beraktivitas bersama dan memberikannya kesempatan bermain bebas.

  • Ajak si Kecil ke Taman Bermain

Guna ‘memancing’ si Kecil untuk bermain bebas, Mum bisa mengajaknya ke taman atau lapangan yang biasa digunakan sebagai tempat bermain oleh anak-anak sebayanya. Tapi ingat, Mum tidak perlu menyuruhnya bermain bersama anak-anak di sana, karena hal tersebut justru menghilangkan tujuan dari bermain bebas itu sendiri. Jadi, dampingi si Kecil dan berikan ia kebebasan untuk melakukan aktivitas yang memang diinginkannya.

Mengembangkan Otak Kanan Anak

Dalam proses mengembangkan otak kanan seringkali kita sebagai orang tua selalu menganggap sepele dan lebih mengedepankan perkembangkan otak kirinya dengan diberikan asupan – asupan kedalam otak kiri anak, jika hal ini terus kita lakukan maka anak
hanya bisa menjalankan perintah apa yang sudah di cerna dalam otak kirinya dan tidak ada kreativitas baru.

kita tahu banyak sekali anak-anak yang sulit mengikuti pelajaran di sekoah. Jika hal ini terjadi pada anak anda, bisa jadi anak anda adalah anak yang lebih dominan otak kananya.

 

Dalam proses mengembangkan otak kanan ini, jika seorang anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan dengan memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pencipta dan penemu hal-hal baru didunia ini baik dalam bidang seni maupun bidang sains. berdasarkan penelitiaan anak yang cenderung berotak kanan belahan kananya lebh dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya.

 

Seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terjadi kedalam 2 belahan, yakni belahan otak kiri dan belahan otak kanan, sesuai letak posisi tangan kita. masing masing anak memiliki kecenderungan domainan yang berbeda dalam hal berpikir. dari kedua belahan otak tersebut, ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada anak yang seimbang tapi ada juga yang dominan otak kiri.

 

Untuk mengetahui kecenderungan otak anak anda, mana yang lebih dominan dalam bereaksi, lakukan test berikut ini :

 

  • Minta angkat kedua tangan Anda.
  • Kemudian minta ia menggoyang goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anak Anda.
  • Kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon.
  • Setelah jemari anak Anda saling menggenggam, coba lihat posisi ibu jadi yang berada paling atas.
  • Apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jadi tangan kanan?
  • Jika ibu jari kiri yang di atas maka anak Anda adalah dominan otak kiri.

 

Inilah mengapa seringkali banyak yang bermasalah dengan belajar di sekolah. Berdasarkan penelitian, ternyata kebanyakan sistem belajar mengajar di sekolah masih menggunakan pola dan cara yang dominan otak kiri. Sementara otak kanan dan otak kiri manusia memiliki perbedaan cara kerja yang sangat jauh bahkan saling bertentangan, atau mungkin lebih tepatnya otak kanan dan otak kiri ada untuk saling melengkapi kekurangan masing masing.

 

Semangat berpikir anak akan tumbuh jika dirinya mengetahui bagaimana cara belajar yang efektif dan efisien. Sekarang ini banyak sekali metode belajar yang ditawarkan sekolah dan tempat kursus. namun yang terbaik adalah metoda belajar yang berdasarkan cara kerja alami otak manusia. Metode ini tepat karena mengajarkan anak belajar dengan menggunakan kadua belahan otak yaitu otak kiri dan otak kanan. Dimana selama ini metoda belajar di sekolah hanya melibatkan otak kiri.